Tuesday, September 20, 2005

Minggu di Pantai Scheveningen

Ody kali ini Ibu kami berjalan-jalan di Pantai Scheveningen yang berhadapan dengan Laut Utara (Noord Zee). Sebenarnya acara kami siang itu adalah berlatih menari Saman di rumah Dina di Seinpost, persis di depan pantai. Kami berlatih untuk persiapan pertunjukkan di International Day, tapi karena satu dan lain hal latihan menari batal dan ditunda ke lain waktu. Akhirnya, kami mengobrol tentang rencana suksesi PPI Den Haag di kamar Dina yang luas.

 

Beranjak sore, kami berjalan kaki menuju pantai. Pantai di sini menurut pendapat Ibu tidak seindah pantai-pantai yang pernah Ibu datangi di Indonesia. Biasa saja sebenarnya, namun pemerintah Belanda pandai mengemas pariwisata dengan baik sehingga membuat orang-orang tertarik datang ke sana. Airnya coklat dan pasirnya berbau karena orang Belanda senang sekali membawa anjing berjalan-jalan dan kadangkala anjing tersebut buang air sembarangan. Yang membuat cukup menarik adalah deretan bangunan hotel, apartemen, toko, museum, dan kafe-kafe yang berjajar dengan rapi di sepanjang bibir pantai. Penjaja makanan juga memasang kiosnya dengan rapi, penjaja es krim banyak sekali, kami sempat membeli es krim dan duduk-duduk sambil memberi makan burung-burung merpati yang banyak singgah di tepi pantai. Selain itu deretan patung-patung perunggu di tepi pantai dalam bentuk yang unik dan lucu menjadi semacam maskot dan daya tarik tersendiri bagi Pantai Scheveningen ini.

 

Agak di lepas pantai ada semacam menara dan dermaganya yang cukup panjang dan besar. Orang-orang dapat naik dan berjalan menyusuri dermaga tersebut untuk melihat laut dari dekat. Di ujung dermaga ada dua buah bangunan, berbentuk piring dan sebuah menara. Ibu tidak tahu apa saja yang ada di dalam bangunan berbentuk piring tersebut, barangkali restoran lepas pantai atau mungkin kasino, sedangkan di menara ada ajang untuk bungy jumping, untuk sekali lompat harus membayar 50 Eur. Kami sempat melihat beberapa orang yang melakukan lompatan dan kemudian terombang-ambing di atas laut. Selain itu di dernaga yang panjang tersebut juga ada semacam kamera yang dapat kita gunakan dengan memasukkan koin 1 Eur atau 50 sen Eur, kita dapat melihat dengan lihat jelas seluruh pemandangan yang ada di sekeliling pantai.

 

Uniknya, di area pertokoan di tepi pantai ada beberapa papan reklame yang berisi iklan tentang Hindia Belanda (Indonesia zaman dulu), iklan tersebut berasal kurang lebih dari tahun 1920-an. Ada iklan tentang Hari Ratu dan hari ulang tahun anggota keluarga kerajaan lainnya yang dirayakan serta diumumkan di koran-koran di Hindia Belanda, ada iklan pariwisata di Pulau Jawa, iklannya ditulis dengan Bahasa Perancis, dan digambarkan dengan seorang penari Jawa dan dilengkapi dengan kata-kata bahwa Pulau Jawa menjadi surga tropis, memiliki gunung berapi yang masih aktif, pertanian yang subur, dsb. Selain itu ada juga iklan yang isinya mengabarkan pasar malam di Kota Semarang tahun 1914. Dan masih ada beragam lainnya, misalnya bahan belajar anak-anak, ada papan yang berisi penjelasan contoh kata dari sebuah abjad, misalnya: Arit untuk huruf A, dengan disertai gambar orang sedang menyabit rumput; Baboe untuk huruf B disertai gambar perempuan yang sedang mengasuh anak kecil, Goedang untuk D disertai gambar gudang yang penuh dengan bahan makanan. Lucu-lucu dan cukup menarik.

 

Foto-foto Ibu di pantai tidak bisa Ibu sertakan di sini sebab rasanya Ibu sudah melampaui kuota album yang diberikan untuk bisa posting foto di album foto Ibu. Nanti akan Ibu kirimkan terpisah ya Sayang. 

Posted by Odisseus\' Mom in 08:01:11 | Permalink | No Comments »