Wednesday, September 21, 2005

I La Galigo

Assamu’alaikum Sayang,


 

Ibu habis berjalan-jalan ke
Leiden tadi siang, baru saja kembali ke kamar dan sudah tidak sabar untuk bercerita padamu. Sebenarnya ada hal lain yang Ibu ingin dapatkan dari perjalanan ke Leiden siang ini. Seperti janji Ibu, Ibu ingin mencari manuskrip naskah mitologi “I La Galigo” yang kata Ayah berada di perpustakaan Leiden. Hanya saja, informasi dari Ayah kurang lengkap di mana tepatnya perpustakaan tersebut berada. Apakah ada di perpustakaan Universitas Leiden atau di Perpustakaan KITLV (The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribean Studies) di Kota Leiden.

 

Siang tadi acara presentasi Bang Zulfan mengambil tempat di lantai 1 KITLV Leiden. Ibu berusaha mencari informasi mengenai bagaimana caranya jika ingin mencari literatur di sana, namun informasi yang Ibu dapatkan tidak terlalu jelas, dan sepertinya Ibu harus membuat kartu anggota perpustakaan dulu. Akhirnya ya sudahlah, mungkin kali lain Ibu kembali ke sana untuk membuat kartu anggota perpustakaan, dan sementara ini Ibu berusaha mencari info dahulu dari perpustakaan di ISS. Sebab, jika kita menemukan buku yang ingin kita pinjam namun berada di perpustakaan lain di luar kampus, maka staf perpustakaan ISS akan dapat membantu meminjamkannya ke perpustakaan yang dimaksud. Sekarang Ibu hanya tinggal mencari tahu di mana sebenarnya manuskrip naskah mitologi “I La Galigo” tersebut disimpan. Ibu sudah berusaha mencarinya lewat google namun belum berhasil menemukannya. Oh, ternyata sudah…. Benar, ada di perpustakaan KILTV Leiden visit: http://tlvlbs.leidenuniv.nl:8080/DB=2/SET=1/TTL=1/CMD?ACT=SRCHA&IKT=4&SRT=RLV&TRM=I+La+Galigo

 

Tunggu dulu ya Sayang….. Nanti akan Ibu lanjutkan kembali. Minta tolong Ayah untuk membacakan kisah ini kepadamu.

 

Ibu juga sudah mengirim e-mail untuk perpustakaan KILTV untuk bisa dibantu mengenai hal ini.

 

Posted by Odisseus\' Mom in 19:55:12 | Permalink | Comments (2)

Selepas kuliah 21 Sept 05

Assalamu’alaikum wr. Wb. Sayangku,

 

Ody, Ibu ingin melanjutkan kisah Ibu padamu. Ibu sudah menyelesaikan kuliah Ibu hari ini. Seperti hari-hari kemarin, Ibu terlambat lagi mengikuti kuliah 15 menit (Ody jangan tiru ya). Masih ada yang ingin Ibu ceritakan kepadamu. Kemarin sore, selepas kelas Bahasa Belanda, Ibu segera kembali ke rumah untuk mengambil sepeda dan pergi ke Media Markt. Ibu ingin segera membeli web cam sehingga kita dapat bercakap-cakap dan Ibu bisa memandang wajah Ody. Teman Ibu, Adrian, yang semula hendak menemani ternyata mengalami masalah dengan sepedanya persis di dekat Kantor Ratu, dan terpaksa kembali ke asrama, sehingga akhirnya Ibu pergi sendiri. Setelah bertanya sana-sini Ibu pun memutuskan membeli web cam merek Philips seharga 19,99 Eur sudah termasuk microphone di dalamnya. Namun sayang, Ibu tidak dapat segera mencobanya karena Ayah tidak sedang online.

 

Ibu dan beberapa teman di Dorus memiliki kebiasaan untuk sesekali masak dan makan bersama, ini sangat menyenangkan dan bisa menghemat uang belanja. Malam tadi Ibu, Ita, Herni, Ara, dan Dina, masak bersama-sama, ada nasi goreng, capcay kuah, kacang merah, dan sambal bajak. Sedapnya….

 

Selepas malam Ibu tidak bisa konsentrasi untuk membaca bahan kuliah esok pagi, ibu putuskan untuk surfing e-mail first class kampus untuk mendapatkan bahan-bahan diskusi kelas 2101 dan mencari jadwal kuliah yang direvisi. Ternyata agenda Ibu penuh sampai dengan akhir Oktober, setiap hari ada kuliah. Namun setiap akhir pekan kami sudah memiliki rencana untuk berjalan-jalan. Kali ini rencananya kami akan ke Museum Van Gogh dan Museum Madame Tussaud di Amsterdam, namun rencanan ini masih tergantung dari kiriman uang beasiswa, jika sudah kami terima maka kami jadi berangkat ke Amsterdam, namun jika sebaliknya maka kami undur dulu rencana tersebut. 

 

Oya, siang ini (Rabu), selepas kuliah 9140 remedial course oleh Pak Jan van Heemst yang selalu memberikan pe er, Ibu dan teman-teman berencana untuk pergi ke Leiden, ada senior (Bang Zulfan) yang akan mempresentasikan papernya di KITLV, Leiden (Ibu kurang tahu topiknya apa, yang jelas seputar Economics of Development-lah majornya Bang Zulfan). Sekalian Ibu ingin tahu kota Leiden dan perpustakaan Universitas Leiden untuk mencari manuskrip tentang I La Galigo, jadilah Ibu berniat ikut ramai-ramai ke Leiden.

 

Ibu lanjutkan kembali nanti ya Sayang. Ody jaga diri baik-baik. Ibu sangat gembira setiap mendengar kabar darimu bahwa kamu semakin lucu dan banyak tingkahnya. Hari ini Ibu dapat laporan dari Tante Ratri kalau Ody sudah bisa membangunkan Eyang yang sedang tidur, sudah mulai iseng ingin belajar menulis sms untuk Ayah dan Ibu, dan bisa sembunyikan benda-benda. Ody, alhamdulillah, Ibu sangat bersyukur engkau tumbuh dengan sehat dan baik. Sabar ya Sayang, insya Allah kita akan segera bertemu lagi. Jagalah Ayah, dan ingatkan jika Ayah belum makan atau belum sholat ya. Robbi habli minash sholihiin.

 

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

Ibu di Kamar Dorus # 152 13.37

Posted by Odisseus\' Mom in 12:43:11 | Permalink | No Comments »

Kuliah non stop!

Paginya di hari Selasa, Ibu bangun jam 7 dan langsung solat subuh. Jadwal hari ini penuh jam 9 sudah mulai kuliah remedial course  9120 Microeconomics, dosennya Pak Robert Sparrow, masih muda, belum menikah, lulusan Vrije Universiteit Amsterdam (sekolahnya Tante Riva, kawan Ibu di LPEM), pernah bekerja di kantor World Bank Jakarta selama mengerjakan disertasinya. Dina pernah bilang, kalau sudah ikut kuliah Pak Robert ini, sejenak jadi lupa dengan sang pacar di Jakarta, hehehe… ada-ada saja (maaf ya Din, gw bocor J). Kalau Pak Jan van Heemst mengajar dengan jelas namun agak cepat, Pak Robert ini mengajar dengan jelas dan cukup bisa diikuti ritmenya, artinya tidak terlalu cepat. Lagi-lagi pagi itu Ibu terlambat sekitar 15 menit, aduh ini kebiasaan buruk deh. Dalam hati Ibu sudah menduga kalau Dina bakal menertawakan Ibu lagi karena terlambat. Ternyata benar, saat makan sang di kantin kampus, dia mencandai Ibu.

 

Kuliah Microeconomics selesai jam 11.00, segera disambung dengan General Course 2101 Development Theories and Strategies, ruangannya di Aula B, kelas sudah dibagi menurut kelompok dan kami harus mendiskusikan mengapa development diperlukan. Sebenarnya Ibu agak bored dengan kelas-kelas diskusi semacam ini, apalagi kelas besar (semacam kuliah umum begitu), wah susah untuk berkonsentrasi. Ya sudahlah, dijalani saja, karena walaupun sedikit namun insya Allah pasti ada ilmu yang dapat Ibu ambil darinya.

 

Ibu hanya sempat istirahat sebentar jam 1.15 sampai jam 2 siang, Ibu tidak membawa makan siang dan juga tidak sempat memasak hari ini, jadi Ibu menghabiskan waktu makan siang dengan menyalin catatan Kim Anh (mahasiswi Vietnam) sambil menemani Herni dan Dina makan. Sambil makan rombongan mahasiswi Amerika Latin yang duduk di sebelah kami menanyakan kepada Ibu alasan mengapa Ibu mengenakan jilbab. Ibu jawab karena rambut merupakan aurat wanita yang harus tertutup dan hanya dapat dilihat oleh laki-laki yang menjadi muhrim. Nancy, mengerti dan kemudian kami makan siang bersama. Sebenarnya Ibu tidak makan karena tidak membawa makanan, akhirnya Ibu memutuskan untuk pindah ke perpustakaan saja untuk mencatat dan mengerjakan pe er–karena Ibu sudah mendapat bahan kuliah. Meskipun ditahan oleh Dina dan diajak berbagi roti dengan Herni, Ibu tidak enak, menjadi orang satu-satunya yang mencatat di saat yang lain makan, lagipula Ibu sudah berjanji untuk segera mengembalikan catatan Kim Anh. Di perpustakaan bertemu Adrian dan kami mengerjakan pe er bersama, berhasil! Pas jam 2 siang kami bergegas menuju ruang kuliah dengan hati gembira karena dapat menyelesaikan tugas.

 

Dimulailah lagi kuliah ketiga hari ini. Benar-benar melelahkan. Sampai di kelas ternyata kuliah belum dimulai karena teman-teman berkumpul di depan jendela ruang kelas lantai tiga untuk menyaksikan Ratu Beatrix yang sedang berpawai dengan kereta kuda keliling Centrum Den Haag, dan kebetulan lewat di depan kampus kami (maklumlah Kampus ISS masih termasuk wilayah Centrum) kami pun ramai-ramai menontonnya terlebih dulu. Hari ini adalah Hari Ratu, di mana Ratu berpidato untuk membuka masa kerja parlemen. Tadinya Ibu dan beberapa teman sudah berniat untuk turun ke jalan, namun karena jadwal kuliah dan tugas yang padat, batallah rencana itu. Ya sudah, cukup menyaksikan dari jendela kelas saja. Ibu sendiri tidak sempat melihat yang mana kereta kuda Sang Ratu, hanya sempat melihat barisan kereta kuda para pengawalnya saja.

 

Kuliah dimulai, Pak van Heemst membagikan lembar jawaban pe er yang ia berikan, ternyata kami tidak disuruh untuk maju ke depan mengerjakan soal di depan, seperti yang Ibu bayangkan. Kami malah diberikan lembar jawaban dan membahasnya bersama-sama. Ya sudah, yang penting Ibu sudah berusaha yang terbaik. Jam 15.45 kuliah sudah selesai. Dan Ibu membajak Adrian untuk menemani Ibu kembali ke Media Markt, karena takut keburu tutup, namun jam 16.00 ada kelas pelajaran Bahasa Belanda. Tadinya Ibu mengajak bolos saja, wah-wah, nakalnya Ibumu Ody, tapi ternyata setelah dihitung-hitung, kelas Bahasa Belanda selesai jam 17.00, masih ada waktu untuk pergi ke Media Markt sebelum toko tutup jam 18.00. Di sini sungguh beda dengan Indonesia, di mana toko tutup sampai larut malam, di Belanda kebanyakan toko tutup jam 6 sore, hanya hari Kamis tutup agak larut, dan hari Jum’at jam 6 sore jalanan sudah sangat sepi, toko sudah tutup, orang-orang menyiapkan diri untuk berlibur melepas lelah. Hari Sabtu dan Minggu, sangat sepi dan sengsaralah kalau di saat seperti itu persediaan makanan kita habis, karena sulit menemukan toko yang buka. Bahkan, seperti pengalaman Ibu, mengisi voucher pulsa isi ulang pun tidak bisa dilakukan saat hari Sabtu dan Minggu, operator seluler yang Ibu pakai benar-benar mematikan sistemnya di hari itu. Untungnya, open market masih buka di hari Sabtu, dan biasanya hari Sabtu ada beberapa pedagang yang menjual murah barangnya.

 

Ody, sekarang hari Rabu dan sudah menjelang pukup 10.30 pagi Ibu harus bersiap untuk kuliah jam 11 ya Sayang. Nanti Ibu lanjutkan kembali.

 

Peluk cium sayang untuk Ody. Semoga menjadi anak yang soleh. Amin.

Posted by Odisseus\' Mom in 09:26:33 | Permalink | Comments (1) »

Hari yang sibuk

Assalamu’alaikum wr. wb.

 

Ody, Ibu kangen sudah tiga hari tidak sempat menulis kabar untukmu, padahal banyak sekali yang ingin Ibu ceritakan padamu. Dimulai dari hari Senin yang lalu ketika jam 9.30 pagi Ibu menuju bank untuk melakukan aktivasi rekening bank Ibu. Alhamdulillah akhirnya setelah lama menunggu kami dapat segera memiliki rekenig bank dan bisa segera mendapatkan uang beasiswa kami. Tapi sampai sekarang uangnya masih belum kami terima, mungkin esok atau lusa. Aktivasi di bank hanya sebentar sekitar 10 menit, kami hanya memberikan paspor kami untuk difotokopi kemudian kami diberikan beberapa lembaran untuk ditandatangani dan kami menerima kartu ATM.

 

Sehabis dari bank, kami menuju open market, kebetulan hari Senin buka, kami naik tram no 1 sampai stasiun HS dan ganti dengan tram no 12 (tram no 11 pun bisa). Open market itu seperti pasar tradisional Indonesia, hanya tempatnya tidak becek dan lebih bersih. Penjual buah-buahan, sayur-sayuran, bumbu dapur, keju, ikan dan hasil laut lainnya, serta daging, pedagang pakaian, kedai makanan, penjual bunga segar, dan lain-lain semuanya ada. Ibu menemukan ada sayuran pare juga di sana. Baguslah, kapan-kapan kalau mau masak sayur pare bisa beli di situ. Ibu membeli buah tomat, udang, daging, sayur bayam, kailan, dan kapri. Sebenarnya ibu agak bingung menentukan mau masak apa sebab semuanya tampak segar dan menarik, menemukan daging halal di sini pun mudah. Selesai berbelanja sekitar jam 12 kami pulang.

 

Sorenya jam 4 kuliah remedial course 9140 sudah menunggu, namun sebelumnya Ibu menyempatkan untuk pergi ke Media Markt dulu untuk mencari web cam, ini sudah diwanti-wanti Ayah, agar Ibu segera membelinya. Sayangnya toko tutup entah kenapa. Ya sudah, Ibu sekalian mampir ke toko Cina Wah Nam Hong di dekat situ untuk membeli beberapa bumbu. Salah seorang kasirnya ternyata orang dari Salatiga, pantas saja kami banyak yang heran karena dia sangat fasih berbahasa Indonesia.

 

Ibu terlambat lagi masuk kuliah hari itu karena ada beberapa kabar dari Tante Ratri dan Ayah yang membuat Ibu harus menyelesaikannya terlebih dahulu sebelum berangkat ke ruang kuliah. Sebelumnya, Ibu menyempatkan diri untuk makan siang dengan sayur bening bayam dan telur dadar hasil masakan Ibu siang itu. Masakannya cukup lumayan rasanya, menghilangkan sedikit kekangenan dengan Indonesia, tapi karena makannya hanya sendirian jadi tidak terlalu seru.

 

Masuk ruang kelas jam 4.15, ini kuliah yang baru Ibu masuki karena minggu lalu Ibu izin pergi bersama teman-teman sejurusan. Dosennya sudah agak tua, namanya Pak van Heemst, beliau menerangkan dengan cukup jelas namun agak cepat rasanya. Kuliah tentang Basic National Accounting, pendalaman tentang sistem penghitungan pendapatan negara. Ibu ditertawakan Dina karena rumah dekat dari kampus tapi datangnya terlambat. Kami diberikan pe er selesai kuliah. Kemudian karena si Dina lapar belum makan siang, Ibu ajak dia ke rumah untuk makan masakan Ibu. Lagipula kemarin Ibu pun makan di rumahnya saat kami berkunjung ke pantai. Gantianlah saling mencicipi masakan teman.

 

Di rumah, ada Haruka dan Mamanya, Ndari sedang memasak steak dan salad, Ibu mencoba mempelajari bagaimana memasaknya. Dapur sore itu cukup ramai. Kebetulan Dina baru saja menerima kiriman paket dari Ibunya di Indonesia. Beberapa barang yang belum bisa terbawa hari itu (karena Dina bersepeda) dititip di kamar Ibu. Di bawah, saat Ibu mengantar Dina pulang sekalian hendak memasukkan sepeda, kami bertemu beberapa orang teman dan senior, jadilah kami bercakap-cakap di pinggir jalan mengenai barang hibahan dan sepeda.

 

Mau makan apa malam ini ya, setelah tadi pagi belanja banyak dan agak kalap karena melihat sayur-sayuran dan buah-buahan yang segar. Ibu ajak Ita masak makan malam. Akhirnya malam itu Ibu makan malam dengan Ita dan Mirna. Kami masak tumis buncis campur telur dan menggoreng udang. Rencana untuk mengerjakan pe er selepas makan malam batal Ody, Ibu mengantuk, lagipula Ibu belum memiliki bahan kuliah karena datang terlambat. Ya sudahlah, besok saja last minute Ibu kerjakan (Ody jangan meniru ini ya) setelah meminta bahan kuliah dari Ibu Zubli Program Administrator jurusan ECD (Economics of Development).

Posted by Odisseus\' Mom in 09:25:25 | Permalink | No Comments »

Tuesday, September 20, 2005

Minggu di Pantai Scheveningen

Ody kali ini Ibu kami berjalan-jalan di Pantai Scheveningen yang berhadapan dengan Laut Utara (Noord Zee). Sebenarnya acara kami siang itu adalah berlatih menari Saman di rumah Dina di Seinpost, persis di depan pantai. Kami berlatih untuk persiapan pertunjukkan di International Day, tapi karena satu dan lain hal latihan menari batal dan ditunda ke lain waktu. Akhirnya, kami mengobrol tentang rencana suksesi PPI Den Haag di kamar Dina yang luas.

 

Beranjak sore, kami berjalan kaki menuju pantai. Pantai di sini menurut pendapat Ibu tidak seindah pantai-pantai yang pernah Ibu datangi di Indonesia. Biasa saja sebenarnya, namun pemerintah Belanda pandai mengemas pariwisata dengan baik sehingga membuat orang-orang tertarik datang ke sana. Airnya coklat dan pasirnya berbau karena orang Belanda senang sekali membawa anjing berjalan-jalan dan kadangkala anjing tersebut buang air sembarangan. Yang membuat cukup menarik adalah deretan bangunan hotel, apartemen, toko, museum, dan kafe-kafe yang berjajar dengan rapi di sepanjang bibir pantai. Penjaja makanan juga memasang kiosnya dengan rapi, penjaja es krim banyak sekali, kami sempat membeli es krim dan duduk-duduk sambil memberi makan burung-burung merpati yang banyak singgah di tepi pantai. Selain itu deretan patung-patung perunggu di tepi pantai dalam bentuk yang unik dan lucu menjadi semacam maskot dan daya tarik tersendiri bagi Pantai Scheveningen ini.

 

Agak di lepas pantai ada semacam menara dan dermaganya yang cukup panjang dan besar. Orang-orang dapat naik dan berjalan menyusuri dermaga tersebut untuk melihat laut dari dekat. Di ujung dermaga ada dua buah bangunan, berbentuk piring dan sebuah menara. Ibu tidak tahu apa saja yang ada di dalam bangunan berbentuk piring tersebut, barangkali restoran lepas pantai atau mungkin kasino, sedangkan di menara ada ajang untuk bungy jumping, untuk sekali lompat harus membayar 50 Eur. Kami sempat melihat beberapa orang yang melakukan lompatan dan kemudian terombang-ambing di atas laut. Selain itu di dernaga yang panjang tersebut juga ada semacam kamera yang dapat kita gunakan dengan memasukkan koin 1 Eur atau 50 sen Eur, kita dapat melihat dengan lihat jelas seluruh pemandangan yang ada di sekeliling pantai.

 

Uniknya, di area pertokoan di tepi pantai ada beberapa papan reklame yang berisi iklan tentang Hindia Belanda (Indonesia zaman dulu), iklan tersebut berasal kurang lebih dari tahun 1920-an. Ada iklan tentang Hari Ratu dan hari ulang tahun anggota keluarga kerajaan lainnya yang dirayakan serta diumumkan di koran-koran di Hindia Belanda, ada iklan pariwisata di Pulau Jawa, iklannya ditulis dengan Bahasa Perancis, dan digambarkan dengan seorang penari Jawa dan dilengkapi dengan kata-kata bahwa Pulau Jawa menjadi surga tropis, memiliki gunung berapi yang masih aktif, pertanian yang subur, dsb. Selain itu ada juga iklan yang isinya mengabarkan pasar malam di Kota Semarang tahun 1914. Dan masih ada beragam lainnya, misalnya bahan belajar anak-anak, ada papan yang berisi penjelasan contoh kata dari sebuah abjad, misalnya: Arit untuk huruf A, dengan disertai gambar orang sedang menyabit rumput; Baboe untuk huruf B disertai gambar perempuan yang sedang mengasuh anak kecil, Goedang untuk D disertai gambar gudang yang penuh dengan bahan makanan. Lucu-lucu dan cukup menarik.

 

Foto-foto Ibu di pantai tidak bisa Ibu sertakan di sini sebab rasanya Ibu sudah melampaui kuota album yang diberikan untuk bisa posting foto di album foto Ibu. Nanti akan Ibu kirimkan terpisah ya Sayang. 

Posted by Odisseus\' Mom in 08:01:11 | Permalink | No Comments »

Monday, September 19, 2005

Bersabarlah

Assalamu’alaikum  wr. Wb. Ody buah hati Ibu,


 

Maafkan Ibu karena baru sempat menulis hari ini untuk Ibu. Dan maafkan Ibu juga karena kemarin tidak dapat bercakap-cakap denganmu melalui messenger. Ibu sedang berada di pantai. Ya, hari Minggu kemarin, di sore hari Ibu dan teman-teman pergi mengunjungi teman kami Dina di asramanya di Seinpost, Scheveningen. Sebetulnya Ibu ingin sekali bercakap-cakap dan mendengar suara Ody, tapi sayangnya kita tidak janjian terlebih dulu sehingga Ibu tahu ketika Ody sedang online.

 

Ody, ada seorang teman yang mengatakan betapa teganya Ibu meninggalkanmu, dan ia pun  sampai geleng-geleng kepala. Ibu sedih jadinya, namun Ibu mencoba bersabar, meskipun ini semua tidak menyenangkan untuk Ody, Ayah, dan Ibu karena harus berpisah seperti ini. Ibu mencoba untuk berpikir, benarkah Ibu keterlaluan sehingga berani meninggalkanmu untuk belajar di negeri yang jauh? Ibu berpikir bahwa semua ini bukan semata-mata karena keinginan dan usaha Ibu, melainkan karena Allah SWT pun berkehendak dan mengizinkan terjadi semua ini. Ibu berusaha untuk bersabar dan tawaqal bahwa perpisahan ini pun terjadi semata-mata karena kehendak Allah. Bahkan ketika seorang ibu yang dengan takdir Allah SWT ditentukan bahwa ia harus meninggal di saat melahirkan anaknya, atau di saat lain di mana si anak masih sangat kecil dan membutuhkan kasih sayang dan bimbingannya, dapatkah kita semata-mata menghakimi bahwa Ibu tersebut tidak baik atau keterlaluan? Sama sekali tidak kan? Karena si Ibu pun pergi karena takdir yang Allah SWT tentukan untuknya, bukannya semata-mata pergi karena kemauannya.

 

Ibu pun menyadari bahwa semua ini terjadi karena izin dan ketentuan Allah SWT. Kita hanya harus bersabar menjalaninya Ody, sungguh Ibu pun menyadari bahwa sama sekali tidak mudah untuk berpisah dengan buah hati yang sangat Ibu sayangi. Ibu minta maaf ya Sayang. Bahwa ujian dari Allah datang dalam berbagai bentuk, bukan hanya kesulitan namun juga kesenangan dan kemudahan. Ody, bantu Ibu untuk senantiasa menguatkan hati dan kesabaran di sini. Kita selalu senantiasa saling mendoakan ya Sayang. Insya Allah di sini pun banyak teman-teman Ibu yang meninggalkan keluarganya, ibunya, istrinya, anaknya, suaminya dan semuanya. Ibu hanya menjadi satu bagian kecil dari ini semua. Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing dan demikian juga kita Sayang, kuatkan hati dan bersabarlah, dan Ibu pun belajar untuk memahami bahwa sesungguhnya bersabar itu  merupakan tekad yang harus pancangkan kuat-kuat setiap saat dan kita tidak boleh menyerah.

 

Ibu berusaha untuk senantiasa mengingat pesan saudari Ibu, Selvy di Tanah Tinggi, Jakarta, bahwa sesungguhnya orang yang menuntut ilmu ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT dan orang yang melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu disejajarkan dengan orang yang pergi berjihad. Bahwasanya Allah pun telah menentukan inilah saat lain dalam hidup Ibu di mana Ibu harus berjihad dengan belajar dan menuntut ilmu di tempat yang jauh dan mengharuskan Ibu untuk berpisah beberapa saat dengan Ody yang sangat Ibu sayangi.

 

Ibu akan selalu mengingat ini semua Sayang. Dan Ibu pun yakin engkau akan selalu berada dalam penjagaan Allah SWT. Mari kita sama-sama bersabar dan berjuang, serta mensyukuri setiap saat yang masih dapat kita miliki bersama.

 

Dengan penuh kasih dan rindu. Ibu

 

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

Posted by Odisseus\' Mom in 21:46:09 | Permalink | Comments (1) »

Saturday, September 17, 2005

Kembali ke Den Haag

Den Haag, 17 Sept.

Assalamu’alaikum wr. Wb. Ody,


 

Bagaimana harimu kali ini? Ibu yakin Ody mengalami hari yang menyenangkan dan menggembirakan karena engkau dapat bermain dan mengenali sekelilingmu dengan baik.

 

Ibu menjalani hari yang cukup menyenangkan pula kemarin dan hari ini. Hari ini Ibu baru saja kembali dari perjalanan dengan teman-teman sejurusan dan bersama convenor kami Ibu Jos dan wakilnya Pak Jan Kees. Kami menjalani hari penuh perkenalan di Dordrecht. Menjalani sesi pengenalan diri, diskusi, bersantai, bernyanyi sambil diiringi permainan piano, mengungkapkan apa yang menjadi keinginan kami selama 15 bulan ke depan dari ISS, apa yang menjadi target knowledge, skill, dan personal objectives yang ingin kami dapatkan selama studi dan tentu saja apa saja hal yang menjadi kekhawatiran kami. Kami membahasnya dan mencari jalan keluarnya. Hampir semua hal berusaha untuk diakomodasi dengan baik oleh Ibu Jos dan Pak Jan Kees.

 

Ibu menjadi mengenal lebih jauh siapa saja teman sejurusan, dari mana mereka berasal, apa latar belakang mereka, dan bagaimana karakter mereka. Mungkin hampir setiap tahun jurusan Ibu menjadi jurusan dengan jumlah student terbanyak, tahun ini yang tercatat ada 34 partisipan, tahun kemarin 32.

 

Udara di Dordrecht sangat dingin, kami menginap di sebuah tempat semacam youth hostel bernama Stay Okay, ada dermaga kecil dan boat yang sesekali melintas di bagian belakang hostel serta dikelilingi oleh pepohonan, sehingga menyerupai hutan kecil. Burung-burung gagak berterbangan di atas pepohonan dan bebek-bebek berenang di danau kecil. Pembagian kamar dibagi berdasarkan laki-laki dan perempuan, dan satu kamar ditempati oleh 4 orang. Ibu kebetulan sekamar dengan teman dari Georgia bernama Ekaterina, dari Uganda; Albina dan Jacque.

 

Saat sampai di kampus Ibu segera mengecek Pigeon Hole milik Ibu (sebuah istilah yang menurut Ita—teman Ibu—sangat aneh), tempat di mana surat-surat dan bahan-bahan pengajaran dari kampus dimasukkan, di dalamnya sudah ada beberapa bahan kuliah untuk minggu depan dan yang paling ditunggu-tunggu adalah nomor rekening Bank ABN-AMRO yang sudah sangat kami nantikan. Sampai saat ini Ibu dan teman-teman yang menerima beasiswa Stuned belum mendapat uang kami karena rekening bank belum juga selesai. Akhirnya, setelah mulai merasakan kebangkrutan di negeri orang, dan hampir saja minta suaka politik dari Kedubes Indonesia—karena kehabisan uang—kami dapat segera mengaktifkan rekening bank kami dan mendapat kiriman uang. Alhamdulillah. Ibu sudah berencana untuk membeli web camera untuk dapat segera berkomunikasi dengan Ayah, Ody dan keluarga di Jakarta. Selain itu Ibu juga sudah berencana untuk membeli sepatu yang bagus untuk musim dingin.

 

Setelah itu Ibu kembali ke kamar dan menyempatkan bercakap-cakap dengan Ayah melalui messenger, kemudian Ibu pergi berbelanja dengan teman-teman, setelah berbelanja Ita dan Herni berencana pergi ke
Rotterdam untuk mengambil beberapa barang hibahan dari senior yang akan pulang. Ibu memilih untuk tinggal di rumah saja, untuk istirahat dan memasak makan malam. Besok sore insya Allah Ibu dan teman-teman akan bermain ke sports hall di tepi pantai di Scheveningen untuk berlatih menari Saman serta menyaksikan dan ikut serta dalam kompetisi olahraga yang diadakan untuk mempererat persahabatan antara old batch dan new batch. Mungkin Ibu akan mencoba bermain bola voli.

 

Oya, rencana kami untuk berjalan-jalan ke Maastricht esok hari batal karena kami kehabisan tiket diskon Kruidvat, ternyata orang-orang di sini sangat antusias dan tiket terjual habis jauh sebelum batas waktu penggunaannya berakhir. Sayang sekali, rencana berjalan-jalan kelililing Belanda dengan harga murah hilanglah sudah.

 

Ody, baru saja ada sms masuk dari Tante Ratri. Ibu tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengar cerita tentang ulahmu yang semakin hari semakin pintar. Jadi sekarang Ody sudah mulai belajar untuk menolak kalu mau dicium ya, geleng kepala sambil berkata, “Ogah”, lucunya Ibu gemas sekali membayangkannya. Dari mana kamu belajar itu Ody? Dan Ody pun sudah mulai belajar berkata, ‘Ada’ dan ‘Tada’ , ada-ada saja kamu Ody. Ibu senang sekali setiap mendengar kabar darimu. Mudah-mudahan hari Senin esok Ibu bisa segera membeli webcam, sehingga Ibu bisa melihat dan mendengar suara Ody.

 

Peluk cium selalu untuk penyejuk hati Ibu. Temani dan jaga Ayah ya Sayang.

 

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

DR 152 19.35

 

Posted by Odisseus\' Mom in 19:32:28 | Permalink | No Comments »

Thursday, September 15, 2005

Hari yang dingin

Assalamu’alaikum wr. Wb.


 

Ody, buah hatiku, tiada terkira kebahagiaan Ibu mendengar setiap kabar yang datang darimu. Alhamdulillah, hanya ucap puji dan syukur yang mampu Ibu ungkapkan di bibir dan hati ini, mengetahui bahwa engkau tumbuh dengan sehat, bermain, dan semakin aktif mengeksplorasi setiap hal di sekitarmu. Lagi-lagi, di sini Ibu merasakan rasa rindu yang semakin memuncak setiap kali mendengar kabar darimu.

 

Hari-hari belakangan ini udara mulai menjadi dingin, hujan rintik-rintik mulai turun disertai angin yang menusuk tulang. Kadangkala Ibu salah memilih pakaian dan merasakan dingin yang menusuk karena tidak memakai pakaian yang cukup tebal. Ini belum seberapa, begita kata beberapa orang teman, masih menjelang musim gugur, belum lagi jika musim dingin telah tiba. Semuanya akan terasa lebih menyiksa.

 

Hari ini Ibu mengunjungi seorang sahabat di wilayah Trekweg, sekitar 20 menit naik tram. Pagi-pagi Ibu berjalan kaki ke Javastraat untuk menunggu tram no 1 yang menuju Delft, ada satu kesalahan yang Ibu lakukan, Ibu terbiasa dengan kebiasaan orang Indonesia yang bisa menyetop bis di manapun dia sukai. Ibu menunggu dan menyetop tram di tempat yang tidak seharusnya. Lucunya, ketika Ibu memberikan tanda ke supir tram bahwa Ibu ingin naik (tanda melambaikan tangan seperti di Indonesia), supir tram tersebut malah memberhentikan tramnya yang panjangnya 2 buah bus PPD Jakarta disambung untuk memberikan Ibu kesempatan menyeberang.

 

Sebagai pejalan kaki seharusnya ini menjadi satu kehormatan karena supir tram tersebut memberikan jalan bagi Ibu yang berjalan kaki seorang diri di pagi hari untuk dapat menyeberang, tapi bukan itu yang Ibu inginkan, Ibu ingin naik, dia malah pergi begitu saja setelah Ibu menyeberang (di Belanda, pengendara mobil, supir bis, dan tram sangat menghormati pengendara sepeda dan pejalan kaki, ini Ibu alami pula saat kemarin sore bersepeda mengelilingi Centrum Ring Den Haag sekitar 1 jam bersepeda, Ibu kepayahan menggenjot sepeda, dan beberapa pengendara mobil dan bis mengalah demi mendahulukan Ibu yang terengah-engah). Aduh, culunnya Ibumu Ody. Setelah Ibu bertanya ke seorang wanita Belanda yang hendak berangkat bekerja barulah Ibu mengerti ternyata Ibu harus menunggu tram di halte khusus yang sudah disediakan. Waktu Ibu terbuang 20 menit karena kesalahan ini. Akhirnya setelah sampai di halte tram, dan menunggu sekitar 10 menit, naiklah Ibu ke tram no 1 jurusan
Delft. Ibu harus turun di Halte Broeksloot dan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

 

Sampai di rumah Mbak Dessy, jam 9.40 pagi. Kami berdua saling bercerita dan bermain bersama dua anak perempuannya, dan kemudian menggoreng combro, Ibu dibekali combro untuk makan siang, lucu juga, tapi makanan apapun selama halal Ibu terima, lumayan untuk isi perut di saat udara dingin begini. Ibu segera pamit saat menjelang jam 11 siang, Ibu harus mengejar kuliah jam 2 siang. Perjalanan pulang pun hampir saja Ibu lalui dengan tersesat jika Ibu tidak menyadari bahwa Ibu menunggu tram no 1 di halte tram no 15, untunglah Ibu segera menyadari dan berbalik arah. Perjalanan pulang terasa lebih cepat dibandingkan perjalanan tadi pagi. Udara masih dingin dan mendung.

 

Di kampus, Ibu bertemu senior (Bang Qori) yang hendak mengecek kondisi sepeda Ibu karena rasanya ban belakangnya harus diperbaiki. Setelah dilihat dan diutak-atik ternyata masalahnya di velg ban belakang yang miring, dan harus diperbaiki di bengkel. Ya sudah biarlah dulu velgnya miring tapi masih bisa koq dipakai, sebab kalau diperbaiki di bengkel bisa habis uang 40 Eur.

 

Esok rencananya Ibu dan teman-teman sejurusan akan mengadakan perjalanan ke Dordrecht. Semula Ibu berpikir untuk membatalkan ikut tamasya karena jadwalnya bentrok dengan kuliah Remedial Course yang harus Ibu ikuti, namun ternyata setelah Ibu konsultasi dengan Pak Jan Kees Counseler merangkap Deputy Convenor program Ibu, beliau menyarankan Ibu untuk mengikuti trip bersama program. Pertimbangannya remedial course microeconomics tersebut sudah Ibu kuasai materinya dengan latar belakang ekoonomi Ibu. Ya sudahlah, daripada Ibu diberi sangsi karena tidak mengikuti acara program, Ibu lebih baik mengalah dan tidak mengikuti remedial course. Untuk itu, malam ini Ibu harus membaca-baca sendiri materi microeconomics tersebut.

 

Ody, doakan Ibu agar dapat selalu menjalani hari-hari Ibu di sini dengan baik dan bersabar dengan segala kondisi yang ada. Insya Allah Sayang, kita akan dapat bertemu lagi di hari-hari mendatang. Jadilah anak yang soleh sayang, dan maafkanlah Ibu yang tidak dapat bersamamu saat ini dan membimbingmu. Allah selalu bersamamu dan menjagamu Nak. Dan sesungguhnya Allah berada lebih dekat dari urat nadi di lehermu dan senantiasa bersama orang-orang yang bersabar.

 

 

Wassalamu’alaikum wr. Wb.

Posted by Odisseus\' Mom in 19:59:55 | Permalink | No Comments »

Wednesday, September 14, 2005

”Night Watch” by Rembrandt van Rijn


 

Tahukah Ody akan lukisan Rembrandt berjudul “The Night Watch”? Ada kisah di balik lukisan tersebut. Kisahnya, dahulu Rembrandt diminta untuk melukis dua puluh orang temannya sebagai pejuang Belanda, di atas satu lembar kanvas. Cukup sulit bukan? Kedua puluh orang temannya termasuk seorang anak kecil dan seekor anjing dilukis atas kanvas. Mereka dalam kondisi siap berperang. Lukisan ini yang aslinya berada di Rembrandt House.

 

Replika Rembrandt yang sedang melukis kedua puluh orang temannya bisa kita saksikan di taman di depan kantor Ratu Beatrix, di Kota Den Haag, replikanya berupa patung perunggu. Kebetulan karena dekat sekali dengan kampus dan asrama di mana Ibu tinggal, Ibu mencoba memperhatikan bagaimana posisi Rembrandt. Rembrandt digambarkan sedang duduk sambil melukis, dan sekitar 10 meter di depannya terdapat dua puluh patung teman-temannya yang sedang dilukis. Ya, lukisan “The Night Watch” dituangkan dalam media seni patung dan bisa kita nikmati sambil berjalan kaki menuju centrum—entah siapa pematungnya. Hati Ibu tergetar, dan agak merinding melihat deretan patung tersebut. Sang Maestro Rembrandt duduk dalam posisi melukis kedua puluh orang temannya yang semuanya sedang berdiri sambil memegang alat berperang. Aura perjuangan dan semangat yang datang dari ratusan tahun lalu terpancar dengan kuat sangat Ibu memandang dan mencoba memaknai arti patung-patung tersebut.

 

Saat ini, anak-anak kecil suka sekali berdiri di depan patung Rembrandt tersebut, dan seolah-olah mereka hendak menyerap beragam ilmu pengetahuan darinya. Di sisi belakang Patung Rembrandt tersebut, terdapat Patung Pahlawan Berkuda, yakni Gubernur Den Haag zaman dulu (semoga Ibu tidak salah), di mana Ibu sempat berfoto di sampingnya (lihat album foto Ibu). Dan di sisi kiri Rembrandt berjarak sekitar 15 meter terdapat sebuah patung lagi, yah agak tertutup pohon, namun Ibu belum sempat melihat gerangan siapakah patung tersebut. Ibu berjanji akan melihatnya untuk Ody dan menceritakannya.

Posted by Odisseus\' Mom in 09:38:59 | Permalink | No Comments »

Acara akhir pekan Ibu

Hari Rabu dan Kamis ini sepertinya jadwal Ibu masih kosong Ody. Tapi mungkin esok Ibu ada kelas Academic Skills. Kemudian di hari Jum’at Ibu ada acara untuk tamasya ke Dordrecht bersama teman-teman sejurusan selama 1,5 hari, kami akan kembali hari Sabtu sore insya Allah. Acara ini diprakarsai (aduh, bahasa Ibu birokrat sekali) oleh convenor program kami Ibu Joos Mooij yang baik hati. Dan beliau pun sudah membuka kesempatan bagi kami jika kami ingin mengajukan rencana tamasya bersama setiap selesai ujian term. Seru sekali ya, seorang teman Ibu dari Albania memberikan ide untuk study trip ke Cancun, di Mexico, Ibu rasa hal itu agak sulit terlaksana. Bagaimana kalau Paris atau Spanyol saja?

Kemudian di hari Minggu, Ibu dan teman-teman seangkatan sudah berencana menggunakan tiket Kruidvat untuk berjalan-jalan ke Maastricht, di sana Ibu dengar ada Kastil peninggalan The Three Musketeers, Ibu ingin sekali melihatnya. Lagi pula Maastricht, satu-satunya wilayah di Belanda di mana tanahnya tidak datar melainkan agak berbukit-bukit dengan bukit tertinggi sekitar 350 meter tingginya, dan di sini disebut gunung. Di sana ada pula titik perbatasan 3 negara yakni Belanda, Belgia, dan Jerman.

Biarpun uang beasiswa belum turun, tapi semangat jalan-jalan dan eksplorasi harus tetap dijaga kan. Hehehe…. Doakan Ibu ya Sayang, semoga Ibu selalu sehat. Nantikan kisah dan foto-foto Ibu pekan depan.

With so much love.

Ibu

 

 

 

 

Posted by Odisseus\' Mom in 09:10:10 | Permalink | Comments (1) »