Paginya di hari Selasa, Ibu bangun jam 7 dan langsung solat subuh. Jadwal hari ini penuh jam 9 sudah mulai kuliah remedial course 9120 Microeconomics, dosennya Pak Robert Sparrow, masih muda, belum menikah, lulusan Vrije Universiteit Amsterdam (sekolahnya Tante Riva, kawan Ibu di LPEM), pernah bekerja di kantor World Bank Jakarta selama mengerjakan disertasinya. Dina pernah bilang, kalau sudah ikut kuliah Pak Robert ini, sejenak jadi lupa dengan sang pacar di Jakarta, hehehe… ada-ada saja (maaf ya Din, gw bocor J). Kalau Pak Jan van Heemst mengajar dengan jelas namun agak cepat, Pak Robert ini mengajar dengan jelas dan cukup bisa diikuti ritmenya, artinya tidak terlalu cepat. Lagi-lagi pagi itu Ibu terlambat sekitar 15 menit, aduh ini kebiasaan buruk deh. Dalam hati Ibu sudah menduga kalau Dina bakal menertawakan Ibu lagi karena terlambat. Ternyata benar, saat makan sang di kantin kampus, dia mencandai Ibu.
Kuliah Microeconomics selesai jam 11.00, segera disambung dengan General Course 2101 Development Theories and Strategies, ruangannya di Aula B, kelas sudah dibagi menurut kelompok dan kami harus mendiskusikan mengapa development diperlukan. Sebenarnya Ibu agak bored dengan kelas-kelas diskusi semacam ini, apalagi kelas besar (semacam kuliah umum begitu), wah susah untuk berkonsentrasi. Ya sudahlah, dijalani saja, karena walaupun sedikit namun insya Allah pasti ada ilmu yang dapat Ibu ambil darinya.
Ibu hanya sempat istirahat sebentar jam 1.15 sampai jam 2 siang, Ibu tidak membawa makan siang dan juga tidak sempat memasak hari ini, jadi Ibu menghabiskan waktu makan siang dengan menyalin catatan Kim Anh (mahasiswi Vietnam) sambil menemani Herni dan Dina makan. Sambil makan rombongan mahasiswi Amerika Latin yang duduk di sebelah kami menanyakan kepada Ibu alasan mengapa Ibu mengenakan jilbab. Ibu jawab karena rambut merupakan aurat wanita yang harus tertutup dan hanya dapat dilihat oleh laki-laki yang menjadi muhrim. Nancy, mengerti dan kemudian kami makan siang bersama. Sebenarnya Ibu tidak makan karena tidak membawa makanan, akhirnya Ibu memutuskan untuk pindah ke perpustakaan saja untuk mencatat dan mengerjakan pe er–karena Ibu sudah mendapat bahan kuliah. Meskipun ditahan oleh Dina dan diajak berbagi roti dengan Herni, Ibu tidak enak, menjadi orang satu-satunya yang mencatat di saat yang lain makan, lagipula Ibu sudah berjanji untuk segera mengembalikan catatan Kim Anh. Di perpustakaan bertemu Adrian dan kami mengerjakan pe er bersama, berhasil! Pas jam 2 siang kami bergegas menuju ruang kuliah dengan hati gembira karena dapat menyelesaikan tugas.
Dimulailah lagi kuliah ketiga hari ini. Benar-benar melelahkan. Sampai di kelas ternyata kuliah belum dimulai karena teman-teman berkumpul di depan jendela ruang kelas lantai tiga untuk menyaksikan Ratu Beatrix yang sedang berpawai dengan kereta kuda keliling Centrum Den Haag, dan kebetulan lewat di depan kampus kami (maklumlah Kampus ISS masih termasuk wilayah Centrum) kami pun ramai-ramai menontonnya terlebih dulu. Hari ini adalah Hari Ratu, di mana Ratu berpidato untuk membuka masa kerja parlemen. Tadinya Ibu dan beberapa teman sudah berniat untuk turun ke jalan, namun karena jadwal kuliah dan tugas yang padat, batallah rencana itu. Ya sudah, cukup menyaksikan dari jendela kelas saja. Ibu sendiri tidak sempat melihat yang mana kereta kuda Sang Ratu, hanya sempat melihat barisan kereta kuda para pengawalnya saja.
Kuliah dimulai, Pak van Heemst membagikan lembar jawaban pe er yang ia berikan, ternyata kami tidak disuruh untuk maju ke depan mengerjakan soal di depan, seperti yang Ibu bayangkan. Kami malah diberikan lembar jawaban dan membahasnya bersama-sama. Ya sudah, yang penting Ibu sudah berusaha yang terbaik. Jam 15.45 kuliah sudah selesai. Dan Ibu membajak Adrian untuk menemani Ibu kembali ke Media Markt, karena takut keburu tutup, namun jam 16.00 ada kelas pelajaran Bahasa Belanda. Tadinya Ibu mengajak bolos saja, wah-wah, nakalnya Ibumu Ody, tapi ternyata setelah dihitung-hitung, kelas Bahasa Belanda selesai jam 17.00, masih ada waktu untuk pergi ke Media Markt sebelum toko tutup jam 18.00. Di sini sungguh beda dengan Indonesia, di mana toko tutup sampai larut malam, di Belanda kebanyakan toko tutup jam 6 sore, hanya hari Kamis tutup agak larut, dan hari Jum’at jam 6 sore jalanan sudah sangat sepi, toko sudah tutup, orang-orang menyiapkan diri untuk berlibur melepas lelah. Hari Sabtu dan Minggu, sangat sepi dan sengsaralah kalau di saat seperti itu persediaan makanan kita habis, karena sulit menemukan toko yang buka. Bahkan, seperti pengalaman Ibu, mengisi voucher pulsa isi ulang pun tidak bisa dilakukan saat hari Sabtu dan Minggu, operator seluler yang Ibu pakai benar-benar mematikan sistemnya di hari itu. Untungnya, open market masih buka di hari Sabtu, dan biasanya hari Sabtu ada beberapa pedagang yang menjual murah barangnya.
Ody, sekarang hari Rabu dan sudah menjelang pukup 10.30 pagi Ibu harus bersiap untuk kuliah jam 11 ya Sayang. Nanti Ibu lanjutkan kembali.
Peluk cium sayang untuk Ody. Semoga menjadi anak yang soleh. Amin.