Friday, August 4, 2006

Belajar hidup cukup

Makasih buat Bung Noval di Delft yang udah mau berbagi di milist. 

Bang Uki telah lebih dari 20 tahun berdagang nasi uduk di pinggir
Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Uduk yang sungguh enak. Tiap
pagi puluhan orang antre untuk makan di tempat atau dibawa pulang.
Paling lama dua jam saja seluruh dagangan Bang Uki, ada empal, telur,
semur daging,tempe goreng ludes habis. Begitu setiap hari, 20 tahun
lebih.

Pertengahan 1980-an, ekonomi Orde Baru tengah menanjak ke puncak
ketinggiannya. Bang Uki, dengan ritme stabil batang pohon cabai yang
terus berproduksi, belanja pukul satu dini hari, masak mulai pukul
dua, berangkat pukul empat, dan seusai subuh telah menggelar barang
dagangnya. Tepat jam tujuh pagi, semua tuntas. Pukul sepuluh, ia sudah
nongkrong di teras rumah, lengkap dengan kretek, gelas kopi, dan
perkutut. “Tinggal nunggu lohor,” tukasnya pendek.

Berulang kali pertanyaan bahkan desakan untuk membuka kios terbukanya
hingga lebih siang sedikit ditolak Bang Uki.
“Buat apa?” tukasnya. “Gua udah cukup. Anak udah lulus es te em.
Berdua bini gua udah naik haji. Apalagi?” Pernah sekali penulis
jumpai ia sedang memasak di rumahnya. Langit di luar masih gelap.
Kedua mata Bang Uki terpejam. Tangan- nya lincah mengiris bawang
merah. Saya menegur. Tak ada reaksi. “Abah masih tidur,” istrinya
balas menegur.

Kini, 15 tahun kemudian, Bang Uki sudah pensiun. Wajahnya penuh
senyum. Hidupnya penuh, tak ada kehilangan. Kami yang kehilangan,
masakan sedap khas Betawi. Kami sedikit tak rela. Bang Uki terlihat
begitu ikhlasnya. Wajahnya terang saat ia dimandikan untuk kali
terakhirnya. Dua jam berdagang, enam jam bekerja, telah mencukupkan
hidupnya.

Dan Bang Uki tidak sendiri. Nyi Omah juga tukang uduk di Pasar Jumat,
Pak Haji Edeng tukang soto Pondok Pinang, pun begitu. Tukang pecel di
Solo, gudeg di Yogya, nasi jamblang di Cirebon, atau bubur kacang
hijau di Bandung, juga demikian. Mereka yang bekerja dan berdagang
untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika telah cukup, untuk apa bekerja
lebih. Untuk apa hasil, harta atau uang berlebih?
“Banyak mudaratnya,” kilah Pak Haji Edeng.

Mungkin. Apa yang kini jelas adalah perilaku bisnis dan ekonomi
tradisional negeri ini ternyata mengajarkan satu moralitas: hidup
wajib dicukupi, tetapi haram dilebih-lebihkan. Berkah Tuhan dan
kekayaan alam bukan untuk kita keruk seorang. Manusia adalah makhluk
sosial. Siapa pun mesti menenggang siapa pun.

Alternatif kapitalisme
Moralitas berdagang “Bang Uki” tentu bertentangan dengan apa yang
kini menjadi moral dasar perekonomian material- kapitalistik. Di mana
prinsip laissez faire atau free will dan free market digunakan tak
hanya untuk memberi izin bahkan mendesak setiap orang
untuk “mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sesedikit
mungkin”. Satu spirit yang nyaris jadi kebenaran universal dan hampir
tak ada daya tolak atau daya koreksinya.

Dan siapa pun mafhum dengan segera, prinsip dan moralitas ekonomi
modern itu bukan hanya melahirkan orang-orang yang sangat kaya,
bahkan keterlaluan kayanya (semacam pembeli Ferrari seharga Rp 5
miliar yang mubazir di Jakarta yang macet), tetapi juga sejumlah
besar orang yang hingga kini tak bisa menjamin apakah ia dapat makan
atau tidak hari ini.

Moralitas kapitalistik hanya menyediakan satu jalur sosial berupa
filantrofisme, yang umumnya hanya berupa “pengorbanan” material yang
hampir tiada artinya dibanding kekayaan bersih yang dimilikinya.
George Soros, misalnya, dengan kekayaan 11 miliar dollar AS (hampir
sepertiga APBN Indonesia), mengeluarkan 400 juta dollar (hanya
sekitar 4 persen atau setara dengan bunga deposito) untuk berderma
dan menerima simpati global di sekian puluh negara.

Dan siapa peduli, bagaimana seorang Bill Gates, Rupert Murdoch, Liem
Sioe Liong atau Probosutedjo menjadi begitu kayanya. Moralitas dasar
kapitalisme di atas adalah dasar “legal” untuk meng- amini kekayaan
itu. Betapapun, boleh jadi, harta yang amat berlebih itu diperoleh
dari cara-cara kasar, telengas, ilegal bahkan atau?langsung dan
tak langsung?dari merebut jatah rezeki orang lain.

Dan siapa mampu mencegah atau menghentikannya? Pertanyaan lebih
praktisnya adalah: Siapa berani? Tak seorang pun. Hingga sensus
mutakhir menyatakan adanya peningkatan jumlah harta orang- orang kaya
dunia sebanding dengan peningkatan jumlah orang yang papa. Belahan
kekayaan ini sudah seperti palung gempa yang begitu dalamnya.

Lalu di mana Bang Uki? Ia tak ada di belahan mana pun yang tersedia.
Ia ada dan memiliki dunianya sendiri. Yang mungkin aneh, alienatif,
marginal, tersingkir, luput, apa pun. Namun sesungguhnya, ia adalah
sebuah alternatif. Bukan musuh, lawan, atau pendamping kapitalisme.
Ia adalah sebuah tawaran yang membuka kemungkinan di tengah kejumudan
(tepatnya ketidakadilan) tata ekonomi dunia saat ini.

Ekonomi cukup
Prinsip “hidup yang cukup” Bang Uki adalah landasan bagi
sebuah “ekonomi cukup”, di mana manusia tidak lagi mengeksploitasi
diri (nafsu)-nya sendiri, juga lingkungan hidup sekitarnya. Ia
mengeksplorasi potensi terbaiknya untuk memenuhi keperluan manusia,
sebatas Tuhan?yang mereka percaya?menganjurkan atau membatasinya.
Bagaimana “cukup” itu didefinisi atau dibatasi, tak ada?bahkan tak
perlu?ukuran dan standar. Seorang pengusaha dan profesional dapat
mengukurnya sendiri dengan jujur: batas “cukup” bagi dirinya. Jika
bagi dia dengan keluarga beranak dua, pembantu dua, tukang kebun,
satpam atau lainnya, merasa cukup dengan sebuah rumah indah, dua
kendaraan kelas menengah, mengapa ia harus meraih lebih?
Mengapa ia harus melipatgandakannya?

Apalagi jika usaha tersebut harus melanggar prinsip hidup,nilai
agama, tradisi dan hal-hal lain yang semula ia junjung tinggi?
Andaikan, sesungguhnya ia mampu menghasilkan puluhan miliar tabungan,
sekian rumah mewah peristirahatan bahkan jet pribadi, dapat
dipastikan hal itu hanya akan menjadi beban. Bukan melulu saat ia
berupaya meraih, tetapi juga saat mempertahankannya.

Bila pengusaha tersebut berhasil men-”cukup”-kan dirinya, secara
langsung ia telah mengikhlaskan kekayaan lebih yang tidak
diperolehnya (walau ia mampu) untuk menjadi rezeki orang lain. Ini
sudah sebuah tindak sosial. Dan tindak tersebut akan bernilai lebih
jika “kemampuan lebihnya” itu ia daya gunakan untuk membantu usaha
atau sukses orang lain. Sambil menularkan prinsip “ekonomi cukup”, ia
akan merasakan “sukses” atau kemenangan hidup yang bernuansa lain
jika ia berhasil membantu sukses lain orang dan tak memungut serupiah
pun uang jasa.

Maka, secara langsung satu proses pemerataan demi kesejahteraan
bersama pun telah berlangsung. Palung atau sen- jang kekayaan pun
menipis. Kesempatan meraih hidup yang baik dapat dirasakan semua
pihak. Pemerintah dapat bekerja lebih efektif tanpa gangguan-gangguan
luar biasa dari konflik-konflik yang muncul akibat ketidakadilan
ekonomi.

Dan seorang pejabat, hingga presiden sekalipun, dapat pula
mendefinisikan “cukup” baginya: jika seluruh kebutuhan hidupku,
hingga biaya listrik, gaji pembantu hingga pesiar telah ditanggung
negara, buat apalagi gaji besar kuminta? Moralitas seperti ini adalah
sebuah revolusi. Dan revolusi membutuhkan keberanian, kekuatan hati
serta perjuangan tak henti.

Maka, “cukuplah cukup”. Kita sederhanakan sebagai prinsip
hidup/ekonomi yang “sederhana”. Kian sederhana, maka kian cukup kian
sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul saya:
semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita
sehari-hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita.
Jika Anda mampu membeli Ferrari, mengapa tak mengonsumsi Mercedes
seri E saja, atau Camry lebih baik, atau Kijang pun juga bisa. Dan
dana lebih, bisa Anda gunakan untuk tindak-tindak sosial, untuk
membuat harta Anda bersih, aman, dan hidup pun nyaman penuh senyuman.

Beranikah Anda? Berani kita? Tak usah berlebih, kita cukupkan saja.

Oleh: Radhar Panca Dahana Sastrawan

Posted by Odisseus\' Mom in 12:01:29 | Permalink | No Comments »

Voor Mijn Passompe

Milikmu Selalu

Jalani kisah kasih denganmu

Gelak tawamu slalu kurindu

Manisnya warna warni cintaku

Kunikmati hari bersama dirimu di hatiku

Jika sesaat engkau merasa

jenuh meraja di dalam dada

Tidak kan Sayang aku menjauh

Ku kan menunggu kembali hadirmu di sisiku

Saat hati menyepi

Kasihku kan bersemi

Menemanimu kekasih

Dalam hangat dunia kian menyapa

Kala hatimu ragu

Kasihku kan merayu

Tentang kita tentang cintamu

Cinta indah itu, di dalam kalbu

Voor mijn Passompe, aku kangen dan tiba2 aja pas denger lagu ini (lagunya Andien) jadi pengen nulis syairnya di sini. Maaf aku ga bisa nulis puisi…;) jadinya ngembat lagunya orang lain aja….:) Semoga Allah SWT selalu menjaga ikatan hati kita di jalan yang diridhoi-Nya serta senantiasa memberikan hidayah untuk keluarga kecil kita. Amin.

Posted by Odisseus\' Mom in 11:18:16 | Permalink | No Comments »

Thursday, August 3, 2006

Kue Putu vs PLN

Sore-sore di rumah, biasalah yang namanya Ody tuh udah bisa ngebedain apa yang lewat di depan rumah, misalnya tukang sayur, mobilnya Mas Bagus, mobilnya Kak Salisa, atau mobilnya Mba Ketut. Dan ternyata ada satu lagi yang udah dia kenali, yaitu tukang kue putu yang biasanya kalo lewat pasti mengeluarin suara khas “tut… tut…” dari uap yang dikeluarin kompornya.

Sore itu Ody lagi ditemenin sama  Mba Ria aja di rumah, Tante Adek gak tau di mana mungkin lagi di samping, sibuk sendiri. Eyang Putri dan Eyang Kakung juga lagi gada di rumah, kayaknya keluar lagi ada urusan. Tiba-tiba aja Ody denger suara tukang kue putu lewat depan rumah.

Ody, “Eyat… Eyat… ueh putu…”

Mba Ria, “Eyang lagi nggak ada Ody, lagi keluar.”

Ody, “Eyat Akuk… Eyat Akuk… ueh putu…”

Mba Ria, “Eyang Kakung, juga ga ada tuh keluar juga.”

Ody, “Mba Iya’… ueh putu…”

Mba Ria, “Mba udah kenyang ah, nggak mau kue putu, kalo mau Ody aja gih sendiri.”

Dan ternyata kemudian tukang putunya dah lewat jauh, suaranya ga kedengeran lagi.

Ody, “Yah ati… PLN…” (yah… mati, PLN) 

Hehehe… ada-ada aja deh Ody ini, pasti deh cerita-ceritanya bikin Ibu ketawa2 setiap kali telepon ke rumah. Ternyata waktu dia nggak denger lagi suara tukang kue putu, dia kita karena listriknya tukang kue putu itu mati kaya PLN yang suka matiin listrik. Sebab Ody kan masih suka takut gelap, nah kalo malem udah mau tidur, lampu kamarnya dimatiin sama Eyang, sambil bilang gini, “Dah lampunya mati, PLN-nya mati, Ody bobo’ dulu”.

Dasar Ody, dikiranya tukang kue putu ngeluarin suaranya pake listrik juga, jadi pas suara “tut…. tut…”-nya dah ga kedengeran lagi, dia kira karena PLN yang matiin. Hihihihi…. lucu banget sih….:)

Posted by Odisseus\' Mom in 09:21:02 | Permalink | No Comments »

Ody nemenin Eyang belanja

Pagi-pagi di rumah seperti biasa Eyang kan harus belanja ke tukang sayur yang lewat di depan rumah. Nah, pagi itu Eyang sambil jalan di halaman depan.

Eyang, “Tukang sayur mana ya…? Koq belum lewat”

Ody lagi makan pagi di depan sambil disuapin Mba Ria

Ody, “Eyat… Eyat… Eyat bobo’ aja di dalam. Ntar Eyat capek.”

Eyang, “Ih, Ody, masa’ Eyang disuruh bobo’, pagi-pagi gini kan Eyang harus belanja buat masak. Kalo Eyang bobo’ siapa yang belanja dan masak?”

Ody, “Mba Iya’ ajah….”

Huehehehe… Ody bisa aja ngejawab….:)

Beberapa hari kemudian Ody nemenin Eyang belanja di tukang sayur.

Eyang, “Belanja apa ya hari ini?”

Ody, “Omat, omat ajah…”

Ody lucu banget deh, udah ngerti pembicaraan orang di sekitarnya dan udah bisa nimpalin pula. Kata Eyang, kalo mata Ody udah melek, udah deh pasti langsung ngoceh… Cerewet sekali… ngajakin ngobrol kayak orang tua.

Posted by Odisseus\' Mom in 09:09:01 | Permalink | No Comments »

Ody belajar nyanyi…

Di sekolah kan Ody udah belajar bernyanyi. Kata Eyang, kalo di sekolah Ibu Guru ngajarin nyanyi ODy ngeliatin aja sambil senyum2, Ody sebetulnya suka dengerin lagu2 tapi Ody masih agak susah untuk ngikutin nyanyian Bu Guru.

Ody belajar nyanyi sama Eyang di rumah

Eyang, “Naik… naik… ke puncak gunung…. tinggi-tinggi… sekali….”

Ody, “Aek.. aek… ke puncak gunung… atut… atut… aek vios Ayah aja….” 

Eyang, “Hah, koq… takut? Maunya naik mobil Ayah aja….”

Wah, ternyata lagu ”Naik-naik ke Puncak Gunung” itu ga disukai sama Ody soalnya dia takut. Iya yah, ODy dah ngerti kalo naik gunung tuh tinggi, dan ternyata dia masih takut. Hihihi… Ody ada-ada aja….:) 

Posted by Odisseus\' Mom in 09:01:14 | Permalink | No Comments »

Tuesday, August 1, 2006

Memasuki bulan Rajab

Assalaamu’alaikum Wr. Wb
 
Menyingkap hati menghampiri Illahi, ziarah rohani bersama Imam Al-Ghazali.
 
Kita telah memasuki bulan rajab. Kata rajab diambil dari at-tarjib, artinya pengagungan. Dikatakan pula, rajab berarti tercurah, sebab pada bulan ini Allah mencurahkan rahmat-NYA kepada orang2 yg bertobat dan memancarkan cahaya pengabulan doa bagi orang2 yg beramal. Rajab juga berarti tuli, sebab pada bulan ini tidak terdengar suara peperangan. Ada pula yg berpendapat bahwa rajab adalah nama sebuah sungai di surga yg airnya lebih putih dari pada susu, rasanya lebih manis daripada madu, dan lebih dingin dari apda es. Tidak ada yg akan meminumnya kecuali mereka yg berpuasa pada bulan rajab.
 
Rasulullah SAW bersabda, “Rajab adalah bulan Allah; Sya’ban adalah bulanku; dan Ramadhan adalah bulan umatku.”
Para ahli isyárah berkata bahwa Rajab terdiri dari tiga huruf, yaitu huruf Ra’, Jim, Dan Ba’. Huruf Ra’ adalah rahmatullah ( rahmat ALLAH SWT); huruf Jim adalah jarm al - ‘abd (dosa hamba); Dan huruf Ba’ adalah birullah (Kebaikan ALLAH SWT). Allah berfirman, “Aku menjadikan dosa hambaku berada diantara rahmat-Ku dan kebaikan-Ku.
 
Abu Hurairah r. a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa pada hari ketujuhbelas pada bulan rajab, akan dinilai seperti orang yg berpuasa enam puluh bulan. Sebab hari itu adalah hari turunnya malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW pada malam Isra.”
 
Rasulullah SAW bersabda, “Bulan rajab adalah bulan Allah. Barangsiapa yg berpuasa sehari dalam bulan rajab dengan mengharapkan keridhaan Allah, ia akan mendapatkan keridhaan Allah.”
 
Allah menghiasi bulan-bulan-NYA dengan empat bulan yg dimuliakan, yaitu : Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab; sebagaimana firmannya :
Diantara bulan2 itu ada empat yg dimuliakan. (QS. At-taubah [9] : 36).
 
Dikisahkan, seorang perempuan beribadah di Baitul Maqdis. Setiap hari selama bulan Rajab ia membaca surat al-ikhlas dua belas ribu kali. Perempuan itu selalu memakai baju mantel. Pada suatu waktu, perempuan itu sakit keras. Ia berwasiat kepada anaknya, jika ia mati agar mantelnya disertakan dalam kuburnya. Namun anak itu lupa melaksanakan wasiat ibunya. Pada suatu malam, ia bermimpi melihat ibunya, ibunya berkata, “Anakku, aku tidak meridhaimu, sebab engkau tidak melaksanakan wasiatku.”
 
Anak itu terbangun dalam perasaan cemas. Ia bergegas menuju kuburan ibunya, lalu menggalinya kembali untuk menguburkan mantel itu. Betapa kagetnya ia karena jenazah ibunya tidak ada dalam lubang kubur. Lalu terdengarlah suara, “Apakah engkau tidak tahu bahwa barang siapa yg taat kepada kami pada bulan rajab, kami tidak akan membiarkannya sendirian dalam kuburnya.”
 
Jika datang sepertiga malam jum’at pertama bulan rajab bulan Rajab, para malaikat memintakan ampun bagi orang2 yg berpuasa pada bulan itu. Anas r. a. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa berpuasa tiga hari dalam bulan yg dimuliakan, ia mendapat pahala orang yg beribadah kepada Allah selama 900 tahun.”
 
Kemudian Anas menegaskan apa yg telah diucapkannya, “Kedua telingaku akan tuli jika aku tidak mendengar hal tersebut dari Rasulluah SAW.”
 
Bulan2 yg dimuliakan Allah ada empat. Malaikat pilihan Allah ada empat. Kitab2 Allah yg utama ada empat. Anggota Wudhu ada empat. Kalimat tasbih yg utama juga ada empat : Subhanallah, Alhamdulillah, La illaha illallah, dan Allahuakbar. Pokok hitungan ada empat, satuan puluhan, ratusan, dan ribuan. Hitungan waktu ada empat, yaitu jam, hari, bulan, dan tahun. Musim ada empat, yaitu musim semi, musim panas, musim gugur, dan musim dingin. Cuaca ada empat, yaitu panas, dingin, basah, dan kering. Khulafa Rasyidun ada empat, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali bin Abi tholib.
 
Ad-Daylami meriwayatkan hadist dari Aisyah bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah menghamparkan kebaikannya dalam empat malam : malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam Nisfu Sya’ban, dan malam pertama bulan rajab.”
 
Dalam hadist lain, Rasulullah SAW bersabda, “Ada lima malam yg jika berdoa pada malam itu tidak akan ditolak : malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri, dan malam Idul Adha.”
 
Barangsiapa yg merindukan surga, ia akan melupakan keinginan rendah di dunia.
Semoga kita dapat mengambil hikmah dari semuanya ini.
Posted by Odisseus\' Mom in 10:27:09 | Permalink | No Comments »