Tuesday, September 26, 2006
Friday, September 15, 2006
Pesan Rasulullah untuk Ramadhan
Dari Salman Al-Farisi RA. Berkata, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada hari terakhir bulan Sya’ban: Wahai manusia telah datang kepada kalian bulan yang agung, bulan penuh berkah, di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah menjadikan puasanya wajib, dan qiyamul lailnya (mendirikan malam) sunnah. Siapa yang mendekatkan diri dengan kebaikan, maka seperti mendekatkan diri dengan kewajiban di bulan yang lain. Siapa yang melaksanakan kewajiban, maka seperti melaksanakan 70 kewajiban di bulan lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran balasannya adalah surga.
Bulan solidaritas, dan bulan ditambahkan rizki orang beriman. Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, maka diampuni dosanya dan dibebaskan dari api neraka dan mendapatkan pahala seperti orang orang yang berpuasa tersebut tanpa dikurangi pahalanya sedikitpun.”
Kami berkata, ”Wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, tidak semua kita dapat memberi makan orang yang berpuasa.”
Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah memberi pahala kepada orang yang memberi buka puasa walaupun dengan satu biji kurma atau seteguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan di mana awalnya adalah rahmat, tengahnya adalah maghfirah dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Siapa yang meringankan orang yang dimilikinya, maka Allah mengampuninya dan dibebaskan dari api neraka.
Perbanyaklah melakukan 4 hal; dua perkara membuat Allah ridha dan dua perkara Allah tidak butuh dengannya. Dua hal itu adalah Syahadat Laa ilaha illallah dan beristighfar kepada-Nya. Adapun 2 hal yang Allah tidak butuh adalah engkau meminta surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang membuat kenyang orang berpuasa, Allah akan memberikan minum dari telagaku (Rasul SAW) satu kali minuman yang tidak akan pernah haus sampai masuk surga.”
(HR al-‘Uqaili, Ibnu Huzaimah, al-Baihaqi, al-Khatib dan al-Asbahani).
Wednesday, September 13, 2006
RAMADHAN BIG SALE!!!
JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN “BIG SALE” SELAMA BULAN RAMADHAN.
OBRAL BESAR-BESARAN PAHALA TIADA TANDINGAN
DISKON AMPUNAN DIPOTONG SAMPAI 99%
RAMADHAN AKAN DATANG
SELAMA SATU BULAN PENUH RAHMAH DAN BERKAH.
SIAPKAN DOA SEKARANG JUGA.
JANGAN KETINGGALAN SHALAT MALAM DAN BACA AL-QURAN
KUMPULKAN POINT AMALAN ANDA.
IBADAH SUNNAH BERNILAI PAHALA SAMA DENGAN IBADAH WAJIB.
POINT UNTUK YANG WAJIB BERLIPAT GANDA.
JUGA NANTIKAN BONUS TAK TERDUGA DI AKHIR BULAN
SIAPA TAHU ANDA BERHAK MENDAPATKAN DOOR-PRIZE:
LAILATUL QADAR
AYO KITA BERAMAI-RAMAI MENGHIDUPKAN RAMADHAN
Saturday, September 2, 2006
A reminder for being patient and tough
In the name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. [1] Have We not expanded thee thy breast? [2] And removed from thee thy burden [3] The which did gall thy back? [4] And raised high the esteem (in which) thou (art held)? [5] So, verily, with every difficulty, there is relief: [6] Verily, with every difficulty there is relief. [7] Therefore, when thou art free (from thine immediate task), still labour hard, [8] And to thy Lord turn (all) thy attention.
|
Thursday, August 10, 2006
Sifat-sifat pendidik sukses
Memang tidak ada manusia sempurna selain Rasulullah saw. Namun orang tua harus berusaha memiliki sifat-sifat terpuji agar bisa dijadikan teladan bagi anak-anaknya. Semakin baik sifat-sifat orang sebagai pendidik, semakin dekat tingkat keberhasilannya dalam mendidik anak. Berikut ini adalah sifat-sifat:
a) Penyabar dan tidak pemarah Dua sifat ini, yakni penyabar dan tidak pemarah, menurut Rasulullah SAW adalah yang dicintai oleh Allah SWT [ h.r. Muslim dari Ibnu Abbas ]. Berkenaan dengan sifat ini ada sebuah kejadian menarik yang diceritakan oleh Abdullah ibnu Thahir. “Pada suatu hari,” Kata Abdullah bercerita, “Saya bersama Al-Makmun [seorang khalifah Bani Abbasiyah], lalu memanggil pelayannya, Ghulama! Tidak dijawab, Ghulama! Kedua kalinya pun tidak dijawab, lalu dipanggil yang ketiga kalinya barulah seorang pelayan lelaki muda keluar sambil berkata, Apakah seorang pelayan tidak berhak makan dan minum? Bukankah saya baru saja melayani anda, kenapa dipanggil-panggil lagi?” Mendengar bicara pelayannya itu Al-Makmun lama tertunduk. Saya curiga jangan-jangan Al-Makmun akan menyuruh saya untuk memenggal leher pelayannya itu. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan memandang saya, “Wahai Abdullah,” ujarnya, “Jika ada majikan yang baik, justru pelayannya yang buruk. Tapi saya tidak mau berperilaku buruk untuk memperbaiki perilaku pembantu saya.”
b) Lemah-lembut dan menghindari kekerasan Rasulullah bersabda, “Allah itu Maha Lemah-lembut, cinta kelamah-lembutan. Diberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan kepada kekerasan dan kepada selainnya.”[h.r. Muslim dari Aisyah ] Sabda yang lain, “Tidaklah kelemah-lembutan itu terdapat pada sesuatu melainkan akan membuatnya indah, dan ketiadaannya dari sesuatu akan menyebabkannya menjadi buruk.”[h.r. Muslim ] Sifat demikian juga ditunjukkan oleh para salafus shalih dalam bermuamalah. Diantaranya adalah kejadian yang pernah dialami oleh budak lelaki Imam Zainal Abidin (cicit Sayidina Ali). Pada suatu hari budak itu menuangkan air minum ke gelas minumnya Imam Zainal Abidin dari poci yang terbuat dari porselin. Tiba-tiba poci itu jatuh dan mengenai kaki sang Imam hingga berdarah. Buru-buru pelayan itu berkata, “Wahai Tuan, Allah telah berfirman, “Dan mereka itu adalah orang-orang yang bisa menahan kemarahan” mendengar itu beliau berkata, “Ya, saya tahan kemarahan saya.” “Dan (juga) pemaaf kepada manusia,” kata budak itu membaca lanjutan firman Allah tadi. “Ya, saya pun telah memaafkan kamu”, kata Imam ZainalAbidin. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan”, lanjut budak itu menyempurnakan bunyi firman Allah tersebut. “Sudah, kamu saya merdekakan Karena Allah”, kata Imam Zainal Abidin.
c) Hatinya penuh rasa kasih sayang Sulaiman Malik Ibnu Al Huwairits pernah tinggal ( untuk nyantri ) bersama Rasulullah saw. Dengan teman-teman sebayanya selama dua puluh malam. “Kami dapati beliau sebagai seorang yang sangat penyayang dan pengasih”, cerita Al Huwairits. Setelah beliau melihat bahwa kami sudah rindu kepada keluarga, beliau bertanya tentang siapa saja orang-orang yang kami tinggalkan di rumah. Kami pun memberitahukannya. Lalu, kami diperintahkan agar pulang. Beliau menasehati, “Pulanglah kepada keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajari mereka, berbuat baiklah kepada mereka, dan shalatlah kamu seperti ini di waktu demikian, shalatlah begini di saat demikian! Jika tiba waktu shalat, salah seorang harus adzan dan yang paling tua menjadi imam.” Rasulullah SAW, bersabda, “Sesungguhnya setiap pohon itu berbuah. Buah hati adalah anak. Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak sayang kepada anaknya. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidak akan masuk surga kecuali orang yang bersifat penyayang.” Seorang sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, setiap kita bisa menyayangi.” Rasulullah SAW menjawab, “Kasih sayang itu bukan (terbatas) seorang menyayangi kawannya, namun kasih sayang untuk semua manusia.”[diriwayatkan Ibnu Bazzar dari Ibnu Umar]
d) Memilih yang termudah di antara dua perkara selagi tidak berdosa Aisyah berkata, “Tidaklah dihadapkan kepada Rasulullah antara dua pilihan melainkan akan dipilihnya perkara yang paling mudah selama hal itu tidak berdosa. Jika itu dosa maka beliaulah orang yang paling jauh meninggalkannya. Dan, beliau tidak mendendam sama sekali terhadap dirinya kecuali jika dirinya melanggar larangan Allah. Maka beliau akan menghukum dirinya sendiri karena Allah.”
e) Fleksibel Bukan fleksibilitas yang berarti lemah dan kendor sama sekali, melainkan sikap fleksibel dan mudah yang tetap berada dalam koridor syariah. Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kuberitahukan terhadap siapakah api neraka itu diharamkan atau siapakah yang diharamkan dari neraka?” Beliau bersabda, “Neraka itu diharamkan terhadap orang yang dekat, sedang, fleksibel dan mudah”.
f) Tidak emosional (suka marah) Dalam pendidikan, sifat pemarah dan emosional harus dijauhi. Sifat demikian bahkan menjadi faktor kegagalan dalam pendidikan anak, maka ketika ada orang yang meminta Nabi agar diberi pesan secara khusus, tiga kali beliau memintanya agar tidak suka marah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang kuat itu bukan karena kekuatannya dalam berkelahi, tetapi karena kemampuannya mengendalikan diri ketika sedang marah.” (h.r. Imam Bukhari dari Abu Hurairah)
g) Bersikap moderat dan seimbang Ekstrim dan berlebih-lebihan adalah sikap tercela. Jika harus marahpun ada tempatnya dan tidak sampai menyebabkan tindakan keluar dari kebenaran. Rasullullah saw, sebagaimana layaknya manusia lain, juga bisa marah. Namun, jika marah pun karena kebenaran. Kalimat yang terucap pun tidak pernah keluar dari kebenaran. Ada seorang laki-laki mengadu kepada Nabi bahwa dirinya akan datang terlambat ketika sholat subuh lantaran si fulan jadi imam itu suka memanjangkan shalatnya. Ketika berpidato, menyinggung masalah itu, beliau marah sekali hingga tidak seperti biasanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sekalian manusia! Ada di antara kalian yang menyebabkan orang lari (dari Islam) maka siapa saja yang menjadi Imam, hendaklah mempersingkat sholatnya. Karena di belakang kalian ada orang tua, anak kecil dan orang yang ada keperluan.”
h) Ada senjang waktu dalam memberi nasihat Sering kali banyak bicara itu tidak mendapatkan hasil. Sebab itulah Imam Ibnu Hanifah berpesan kepada muridnya, “Janganlah kalian mengajarkan fiqih kalian kepada orang yang sudah tidak berminat!” Ibnu Masâ’ud ra. Hanya memberi nasihat kepada para sahabat setiap hari Kamis. Maka ada seorang yang berkata kepada beliau, “Wahai Abu Abdur Rahman, alangkah baiknya jika Anda memberi nasihat kepada kami setiap hari.” Beliau menjawab, “Saya enggan begitu karena saya tidak ingin membuat kalian merasa bosan dan saya memberi senjang waktu dalam memberi nasihat sebagaimana Rasulullah lakukan terhadap kami dulu karena khawatir kami bosan.” (Muttafaâ’alaih)
Sumber: Kitab Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli
Friday, August 4, 2006
Belajar hidup cukup
Makasih buat Bung Noval di Delft yang udah mau berbagi di milist.
Bang Uki telah lebih dari 20 tahun berdagang nasi uduk di pinggir
Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Uduk yang sungguh enak. Tiap
pagi puluhan orang antre untuk makan di tempat atau dibawa pulang.
Paling lama dua jam saja seluruh dagangan Bang Uki, ada empal, telur,
semur daging,tempe goreng ludes habis. Begitu setiap hari, 20 tahun
lebih.
Pertengahan 1980-an, ekonomi Orde Baru tengah menanjak ke puncak
ketinggiannya. Bang Uki, dengan ritme stabil batang pohon cabai yang
terus berproduksi, belanja pukul satu dini hari, masak mulai pukul
dua, berangkat pukul empat, dan seusai subuh telah menggelar barang
dagangnya. Tepat jam tujuh pagi, semua tuntas. Pukul sepuluh, ia sudah
nongkrong di teras rumah, lengkap dengan kretek, gelas kopi, dan
perkutut. “Tinggal nunggu lohor,” tukasnya pendek.
Berulang kali pertanyaan bahkan desakan untuk membuka kios terbukanya
hingga lebih siang sedikit ditolak Bang Uki.
“Buat apa?” tukasnya. “Gua udah cukup. Anak udah lulus es te em.
Berdua bini gua udah naik haji. Apalagi?” Pernah sekali penulis
jumpai ia sedang memasak di rumahnya. Langit di luar masih gelap.
Kedua mata Bang Uki terpejam. Tangan- nya lincah mengiris bawang
merah. Saya menegur. Tak ada reaksi. “Abah masih tidur,” istrinya
balas menegur.
Kini, 15 tahun kemudian, Bang Uki sudah pensiun. Wajahnya penuh
senyum. Hidupnya penuh, tak ada kehilangan. Kami yang kehilangan,
masakan sedap khas Betawi. Kami sedikit tak rela. Bang Uki terlihat
begitu ikhlasnya. Wajahnya terang saat ia dimandikan untuk kali
terakhirnya. Dua jam berdagang, enam jam bekerja, telah mencukupkan
hidupnya.
Dan Bang Uki tidak sendiri. Nyi Omah juga tukang uduk di Pasar Jumat,
Pak Haji Edeng tukang soto Pondok Pinang, pun begitu. Tukang pecel di
Solo, gudeg di Yogya, nasi jamblang di Cirebon, atau bubur kacang
hijau di Bandung, juga demikian. Mereka yang bekerja dan berdagang
untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika telah cukup, untuk apa bekerja
lebih. Untuk apa hasil, harta atau uang berlebih?
“Banyak mudaratnya,” kilah Pak Haji Edeng.
Mungkin. Apa yang kini jelas adalah perilaku bisnis dan ekonomi
tradisional negeri ini ternyata mengajarkan satu moralitas: hidup
wajib dicukupi, tetapi haram dilebih-lebihkan. Berkah Tuhan dan
kekayaan alam bukan untuk kita keruk seorang. Manusia adalah makhluk
sosial. Siapa pun mesti menenggang siapa pun.
Alternatif kapitalisme
Moralitas berdagang “Bang Uki” tentu bertentangan dengan apa yang
kini menjadi moral dasar perekonomian material- kapitalistik. Di mana
prinsip laissez faire atau free will dan free market digunakan tak
hanya untuk memberi izin bahkan mendesak setiap orang
untuk “mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sesedikit
mungkin”. Satu spirit yang nyaris jadi kebenaran universal dan hampir
tak ada daya tolak atau daya koreksinya.
Dan siapa pun mafhum dengan segera, prinsip dan moralitas ekonomi
modern itu bukan hanya melahirkan orang-orang yang sangat kaya,
bahkan keterlaluan kayanya (semacam pembeli Ferrari seharga Rp 5
miliar yang mubazir di Jakarta yang macet), tetapi juga sejumlah
besar orang yang hingga kini tak bisa menjamin apakah ia dapat makan
atau tidak hari ini.
Moralitas kapitalistik hanya menyediakan satu jalur sosial berupa
filantrofisme, yang umumnya hanya berupa “pengorbanan” material yang
hampir tiada artinya dibanding kekayaan bersih yang dimilikinya.
George Soros, misalnya, dengan kekayaan 11 miliar dollar AS (hampir
sepertiga APBN Indonesia), mengeluarkan 400 juta dollar (hanya
sekitar 4 persen atau setara dengan bunga deposito) untuk berderma
dan menerima simpati global di sekian puluh negara.
Dan siapa peduli, bagaimana seorang Bill Gates, Rupert Murdoch, Liem
Sioe Liong atau Probosutedjo menjadi begitu kayanya. Moralitas dasar
kapitalisme di atas adalah dasar “legal” untuk meng- amini kekayaan
itu. Betapapun, boleh jadi, harta yang amat berlebih itu diperoleh
dari cara-cara kasar, telengas, ilegal bahkan atau?langsung dan
tak langsung?dari merebut jatah rezeki orang lain.
Dan siapa mampu mencegah atau menghentikannya? Pertanyaan lebih
praktisnya adalah: Siapa berani? Tak seorang pun. Hingga sensus
mutakhir menyatakan adanya peningkatan jumlah harta orang- orang kaya
dunia sebanding dengan peningkatan jumlah orang yang papa. Belahan
kekayaan ini sudah seperti palung gempa yang begitu dalamnya.
Lalu di mana Bang Uki? Ia tak ada di belahan mana pun yang tersedia.
Ia ada dan memiliki dunianya sendiri. Yang mungkin aneh, alienatif,
marginal, tersingkir, luput, apa pun. Namun sesungguhnya, ia adalah
sebuah alternatif. Bukan musuh, lawan, atau pendamping kapitalisme.
Ia adalah sebuah tawaran yang membuka kemungkinan di tengah kejumudan
(tepatnya ketidakadilan) tata ekonomi dunia saat ini.
Ekonomi cukup
Prinsip “hidup yang cukup” Bang Uki adalah landasan bagi
sebuah “ekonomi cukup”, di mana manusia tidak lagi mengeksploitasi
diri (nafsu)-nya sendiri, juga lingkungan hidup sekitarnya. Ia
mengeksplorasi potensi terbaiknya untuk memenuhi keperluan manusia,
sebatas Tuhan?yang mereka percaya?menganjurka
Bagaimana “cukup” itu didefinisi atau dibatasi, tak ada?bahkan tak
perlu?ukuran dan standar. Seorang pengusaha dan profesional dapat
mengukurnya sendiri dengan jujur: batas “cukup” bagi dirinya. Jika
bagi dia dengan keluarga beranak dua, pembantu dua, tukang kebun,
satpam atau lainnya, merasa cukup dengan sebuah rumah indah, dua
kendaraan kelas menengah, mengapa ia harus meraih lebih?
Mengapa ia harus melipatgandakannya?
Apalagi jika usaha tersebut harus melanggar prinsip hidup,nilai
agama, tradisi dan hal-hal lain yang semula ia junjung tinggi?
Andaikan, sesungguhnya ia mampu menghasilkan puluhan miliar tabungan,
sekian rumah mewah peristirahatan bahkan jet pribadi, dapat
dipastikan hal itu hanya akan menjadi beban. Bukan melulu saat ia
berupaya meraih, tetapi juga saat mempertahankannya.
Bila pengusaha tersebut berhasil men-”cukup”-kan dirinya, secara
langsung ia telah mengikhlaskan kekayaan lebih yang tidak
diperolehnya (walau ia mampu) untuk menjadi rezeki orang lain. Ini
sudah sebuah tindak sosial. Dan tindak tersebut akan bernilai lebih
jika “kemampuan lebihnya” itu ia daya gunakan untuk membantu usaha
atau sukses orang lain. Sambil menularkan prinsip “ekonomi cukup”, ia
akan merasakan “sukses” atau kemenangan hidup yang bernuansa lain
jika ia berhasil membantu sukses lain orang dan tak memungut serupiah
pun uang jasa.
Maka, secara langsung satu proses pemerataan demi kesejahteraan
bersama pun telah berlangsung. Palung atau sen- jang kekayaan pun
menipis. Kesempatan meraih hidup yang baik dapat dirasakan semua
pihak. Pemerintah dapat bekerja lebih efektif tanpa gangguan-gangguan
luar biasa dari konflik-konflik yang muncul akibat ketidakadilan
ekonomi.
Dan seorang pejabat, hingga presiden sekalipun, dapat pula
mendefinisikan “cukup” baginya: jika seluruh kebutuhan hidupku,
hingga biaya listrik, gaji pembantu hingga pesiar telah ditanggung
negara, buat apalagi gaji besar kuminta? Moralitas seperti ini adalah
sebuah revolusi. Dan revolusi membutuhkan keberanian, kekuatan hati
serta perjuangan tak henti.
Maka, “cukuplah cukup”. Kita sederhanakan sebagai prinsip
hidup/ekonomi yang “sederhana”. Kian sederhana, maka kian cukup kian
sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul saya:
semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita
sehari-hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita.
Jika Anda mampu membeli Ferrari, mengapa tak mengonsumsi Mercedes
seri E saja, atau Camry lebih baik, atau Kijang pun juga bisa. Dan
dana lebih, bisa Anda gunakan untuk tindak-tindak sosial, untuk
membuat harta Anda bersih, aman, dan hidup pun nyaman penuh senyuman.
Beranikah Anda? Berani kita? Tak usah berlebih, kita cukupkan saja.
Oleh: Radhar Panca Dahana Sastrawan
Tuesday, August 1, 2006
Memasuki bulan Rajab
Wednesday, July 26, 2006
Even a little boy do it
My dearest friend Salwa Singh just a few minutes ago sent me a link, about a little Italian boy who is practising to recite short surah(s) from Al Qur’an. A really cute one, either the boy or the way he recites Qur’an. Well I think from the example, since a little boy has tried hard and seriously to do it, it’s about time we as an elderly muslims should at least give the same efforts, attention, support not only for our little beloved ones at home to start learn and practice how to read and recite Qur’an, but also for ourselves as their parents.
A little reminder for me and my husband as a parents.
Saturday, July 15, 2006
Kepercayaanmu adalah inspirasiku
Tahun ajaran baru beberapa hari lagi akan di mulai. Sejak beberapa bulan yang lalu para orang tua sudah sibuk kesana-kemari keluar masuk dari satu sekolah ke sekolah lain mencari informasi tentang sebuah sekolah . Ada yang sangat selektif karena dana yang terbatas namun ada juga yang sangat selektif karena ingin mendapatkan nilai lebih dari apa yang sudah mereka bayarkan kepada sekolah. Tentunya di atas semua ini mereka para orang tua mempunyai satu harapan untuk anak mereka, yaitu sesuatu yang terbaik bagi anak-anak mereka. Karena anak adalah amanah, anak adalah perhiasan, anak adalah permata hati, penerus keturunan, generasi pewaris negeri ini, dan entah apalagi sebutan yang akan kita sandangkan kepada anak kita.
Ada-ada saja pertanyaan dari para calon orang tua murid ketika mereka ingin mendapatkan informasi. Bahkan saya pun pernah memperhatikan ada orang tua yang sampai begitu memperhatikan keadan toilet. “Bagamana Bu? Apa di sini airnya lancar?” kata salah seorang calon orang tua murid baru. Jujur waktu itu saya sangat kaget dengan pertanyaan calon orang tua murid baru tersebut. Untuk menghilangkan rasa kaget saya, saya mencoba tersenyum, “Insya Allah lancar Bu.”
“Bu anak saya paling susah makan. Nanti ketika makan siang tolong diperhatikan ya Bu supaya mau makan?”
“Anak saya suka lupa Bu dengan barang-barang miliknya, nanti diingatkan ya Bu, supaya jangan ada yang tertinggal barang-barang nya? “
“Bu kalau anak saya itu pendiam banget. Dia enggak bakal ngomong kalau enggak ditanya. Tolong ya Bu di tanya-tanya , saya takut anak saya sakit perut atau pusing tapi dia diam aja.. Bu….” Dan masih banyak lagi. Mengapa begitu banyak pertanyaan dan pesan yang dilontarkan oleh para orangtua? Apa yang terjadi?
Kita orang tua memang sangat sayang dan cinta pada anak-anak kita. Kita tak ingin sesuatu hal buruk yang terjadi pada mereka. Apalagi jika itu adalah pengalaman pertama kita menyekolahkan anak atau pengalaman pertama anak kita masuk sekolah. Jujur sebenarnya apa yang kita khawatirkan? Keselamatan? Kenyamanan? Atau ketidakpercayaan kita terhadap kemampuan anak?
Dalam proses terjadinya pembentukan janin dalam rahim ibu adalah terdapat berjuta-juta sel sperma berusaha berjuang untuk bisa masuk dan tetap bertahan sehingga menjadi apa yang disebut dengan segumpal darah yang dalam prosesnya menjadi janin begitu seterusnya sampai akhirnya lahir menjadi seorang anak bayi. Dan hanyalah sperma yang kuat dan tangguh yang akan menjadi pemenang. Karenanya anak yang lahir adalah hasil dari sebuah perjuangan sehingga menghasilkan kemenangan. Dari sini kita bisa melihat bahwa jauh sebelum terlahir, anak kita telah memiliki sifat pejuang dan pemenang.
Bahkan dalam suatu hadist dikatakan, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (perasaan percaya) kepada Allah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani ataupun Majusi…” ( HR. Bukhari).
Anak-anak kita bukan hanya sudah memiliki karakter pejuang dan pemenang namun di dalam dirinya sudah bersemayam fitrah nan suci. Bayangkanlah segelas air di dalam gelasnya yang bening. Apakah warna yang dihasilkan? Apakah kita percaya bahwa air yang bening itu bisa berubah warna? Sekarang coba kita pindahkan air tersebut ke dalam sebuah gelas berwarna biru? Apakah warna yang tampak dari luar? Air tersebut seolah berubah warna mengikuti warna wadah yang ditempatkannya. Begitulah anak-anak kita. Dia tetap memiliki fitrah nan suci namun dia mengikut pada apa yang menempatkannya.
Kitalah para orang tua yang sesungguhnya merupakan guru utama bagi anak-anak kita. Kita orangtua yang menanamkan sesuatu yang berarti bagi anak kita. Adapun hal-hal yang lain adalah guru pembantu bagi anak-anak kita. Dengan bekal yang dimilikinya kitalah yang dapat membimbingnya untuk melejitkan kemampuan anak-anak kita. Kitalah yang berada di sisinya ketika pada masa-masa usia keemasannya. Ketika ia belum mengenal apa-apa hingga menjadi seperti sekarang ini. Dukungan dan kepercayaan kita adalah inspirasinya untuk tetap berjuang.
Masih ingatkah kita ketika ia untuk pertama kalinya belajar berjalan? Betapa percaya dan yakinnya kita bahwa anak kita bisa berjalan hingga akhirnya hari ini, kita saksikan kaki-kaki kecilnya hilir mudik mengelilingi rumah bahkan tak pernah terasa letih dan bosan mengitari taman-taman dekat rumah. Masih ingatkah kita ketika untuk pertama kalinya ia mengeluarkan kata pertamanya? Kita dengan yakin dan percaya bahwa anak kita tak kenal putus asa terus berjuang hingga akhirnya hari ini, kita bisa rasakan betapa sepinya surga dunia kita tanpa celotehnya. Dan masih banyak lagi usaha yang telah di lakukan anak-anak kita dalam kehidupannya.
Lalu mengapa ketika ia sudah pandai berlari, melompat, berkata-kata bahkan tak jarang kedua tangannya juga melukiskan suatu garis-garis yang indah kita menjadi ragu akan semangatnya, daya juangnya dan sifat pemenangnya? Apakah kita telah memberi bekal yang baik baginya atau kita memberi ketidakpercayaan padanya?
Bayangkan saat ini anda berada di sebuah hutan belantara. Ucapkanlah sebuah kata. Apa yang terjadi? Ketika anda berkata sakit, maka kata sakit akan kembali memantul. Begitu sebaliknya, ketika anda mengucapkan kata hebat maka kata hebat akan kembali memantul. Begitulah gema yang terjadi. Begitu pula pada anak-anak kita. Ketika kita menganggapnya lemah maka sifat lemah yang akan memantul pada anak kita. Karena sikap dan pikiran kita terus dibimbing dan diingatkan akan kelemahan anak kita, sehingga yang terlahir dari itu adalah ketidakpercayaan, kekhawatiran dan mungkin keputus asaan. Apakah kita sebagai orang tua percaya dan yakin bahwa kita dapat membimbing anak-anak kita dan menjadi guru utama yang baik bagi anak-anak kita? Apakah kita sebagai orang tua sanggup menjadi guru utama yang baik bagi anak-anak kita? Apakah kita telah memberi bekal yang baik pada anak-anak kita? Adakah keteladanan telah kita pahatkan dalam pengalaman hidup anak-anak kita? Jawaban kita tentu adalah yang terbaik bagi anak-anak kita.
Taken from mailing list Salamaa; Sat, July 15 2006 (special thanks to: Leli Marlini)